Sosok Dibalik Lepasnya Belenggu Kabut Asap Riau


Pekanbaru, - 2017 ini merupakan tahun ke dua provinsi Riau bebas dari bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Bagi masyarakat Riau, pencapaian itu merupakan prestasi setelah sebelumnya dibelenggu bencana asap selama 18 tahun terakhir.

Keberhasilan itu tidak lepas dari sinergi, koordinasi dan kerja keras seluruh pihak yang tergabung dalam satuan tugas penanggulangan bencana kabut asap akibat Karhutla. Mereka terdiri dari TNI, Polri, instansi terkait di pemerintah daerah maupun pusat, BMKG hingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Sosok Edwar Sanger lantas mencuat sebagai bagian dari keberhasilan Riau memutus mata rantai bencana kabut asap tersebut. Pria kelahiran Air Molek, 12 Februari 1961 yang terkenal dengan kumis tebal itu mengambil alih tongkat komando BPBD Riau pada 2015 lalu.

Saat itu, Riau sedang dilanda kabut asap tebal. Karhutla dengan skala besar melanda hampir sebagian Provinsi Riau. Tercatat 3.400 titik api dengan total 5.595 hektare lahan terbakar di seluruh negeri Lancang Kuning tersebut.

"Mei 2015 saya masuk BPBD. Kita ingat betul saat itu, untuk memperoleh udara segar harus beli tabung oksigen. Sangat bahaya, asap tebal dimana-mana," ujar alumni Fakultas Universitas Islam Indonesia 1985 tersebut.

Lantas, suami dari Hj Indah Prasetiowati itu mengambil langkah cepat. Dia mempelajari fungsi utama BPBD. Ada tiga hal utama yang harus segera dibenahi, diantaranya adalah koordinasi, komando dan pelaksanaan.

"Saya bagi habis pekerjaan tersebut ke jajaran saya. Saya tingkatkan koordinasi dan sinergi yang baik dengan seluruh pihak, TNI, Polri, kementerian lembaga, swasta," ujarnya.

Hasilnya, 2016 untuk pertama kalinya Riau berhasil bebas dari kabut asap. Meski Karhutla masih terjadi, namun ayah dari tiga anak itu mengatakan angkanya berhasil di tekan. Tercatat titik api menurun lebih dari 50 persen hingga 1.397 titik dengan luas kebakaran 2.348,69 hektare.

Situasi semakin membaik November 2017 ini dengan titik api terpantau hanya 326 titik dengan luas kebakaran 1.033,12 hektare.

Menurut pria yang sebelumnya bercita-cita menjadi pilot itu, dirinya selalu menerapkan kedisplinan ketat bagi jajarannya. Hal itu ia terapkan karena di 2/3 karirnya selalu bersama dengan sosok militer.

"1993 saya mulai menjadi ajudan almarhum Pak Soeripto (Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Soeripto Gubernur Riau dua periode periode 1988-1998). Jadi ilmu militer beliau masih melekat dengan saya dan terus saya terapkan sampai sekarang," tuturnya.

Selain kedisplinan, ayah dari tiga putri yang salah seorangnya sah menyandang gelar Dokter itu mengatakan dirinya lebih senang bekerja di lapangan. Dia menuturkan, 80 persen dari tugasnya banyak dihabiskan di lapangan, sementara 20 persen di balik meja kerjanya.

Sebagai pejabat yang langsung berhadapan dengan bencana, terutama Karhutla, pria yang pernah menjabat sebagai Penjabat Walikota Pekanbaru 2016 itu menyadari jabatan yang ia emban memiliki risiko lebih besar.

"Saya sadar, risiko kerja saya besar. Medan yang kita lawan itu api. Kalau keluar dari rumah, kita siap mati. Kita ingat Serka (Anumerta) Wahyudi yang gugur dalam memadamkan api 2016 lalu," ujarnya.

"Kenapa, karena kita lawan api. Terbang dengan helikopter hampir setiap hari," lanjutnya.

Namun, dia merasa bangga apabila pekerjaan dan sistem yang dibangun berdampak positif bagi masyarakat Riau, untuk hidup sehat dan terbebas dari kabut asap.

Dirinya juga berharap pengorbanan yang dilakukan oleh jajaran TNI, Polri dan seluruh pihak serta sistem yang terbangun dalam menanggulangi Karhutla dapat dilanjutkan ketika dirinya tidak lagi menjabat sebagai Kepala BPBD Riau.

 

Oleh Anggi Romadhoni